lenkaed – Kementerian Pertahanan Kamboja menuduh pasukan Thailand memicu kembali ketegangan di perbatasan kedua negara. Tuduhan ini disampaikan setelah klaim Bangkok mengenai serangan roket dan tank yang dikatakan dilancarkan Phnom Penh dibantah Kamboja.
Dalam pernyataan resmi pada Senin, Kamboja menegaskan bahwa serangan justru dimulai oleh pasukan Thailand sekitar pukul 05.00 waktu setempat (22.00 GMT Minggu). Serangan terjadi menyusul serangkaian provokasi beberapa hari terakhir yang meningkatkan ketegangan militer di wilayah perbatasan.
Kementerian Pertahanan Kamboja menekankan bahwa pihaknya telah menunjukkan pengendalian diri maksimal. “Kami tidak melakukan serangan balasan dan tetap berkomitmen pada mekanisme penyelesaian damai sesuai hukum internasional,” tulis pernyataan tersebut. Hal ini menegaskan sikap Phnom Penh untuk menjaga stabilitas dan mematuhi standar hukum internasional.
Selain itu, Kamboja menyatakan telah memberitahu Tim Pengamat ASEAN mengenai eskalasi terbaru di perbatasan. Mereka juga berencana melakukan penyelidikan menyeluruh untuk memastikan fakta di lapangan dan mencegah konflik lebih lanjut. Mekanisme ini dianggap penting untuk menjaga transparansi dan kredibilitas dalam penyelesaian sengketa perbatasan.
Pengamat hubungan regional menilai insiden ini menyoroti sensitivitas perbatasan antara Kamboja dan Thailand, yang kerap menjadi titik gesekan. Upaya diplomasi melalui ASEAN dan mekanisme internasional dinilai sebagai langkah strategis untuk menahan eskalasi militer dan mendorong dialog konstruktif.
Ke depan, Kamboja berkomitmen menjaga stabilitas wilayah dan menghindari konfrontasi langsung. Pemerintah menekankan perlunya penyelesaian sengketa melalui jalur diplomasi, pengawasan internasional, dan penerapan hukum internasional untuk mencegah konflik berkepanjangan.
Secara keseluruhan, tudingan Kamboja terhadap Thailand menegaskan ketegangan perbatasan tetap menjadi isu sensitif di kawasan Asia Tenggara. Penanganan diplomatis dan pengawasan ASEAN menjadi kunci untuk menjaga perdamaian dan stabilitas regional.
“Baca juga : Pemilik Kapal JKW dan Iriana yang Kontroversial Terungkap”
KETEGANGAN PERBATASAN THAILAND-KAMBOJA MEMAKSA 1.157 KELUARGA MENGUNGSI
Ketegangan militer di perbatasan Thailand–Kamboja memaksa ribuan warga sipil, termasuk anak-anak, lansia, dan perempuan, mencari tempat perlindungan sementara. Evakuasi berlangsung setelah laporan penggunaan senjata berat oleh pasukan Thailand di desa-desa dekat perbatasan.
Harian Khmer Times melaporkan hingga Senin pagi, 1.157 keluarga telah dievakuasi, dan proses evakuasi lanjutan masih berjalan. Serangan pasukan Thailand mencapai desa-desa sejauh 4–5 km dari garis perbatasan, menyebabkan ketakutan dan gangguan signifikan bagi warga lokal.
Pemerintah Kamboja sebelumnya menyebut tiga warga sipil mengalami luka-luka akibat pertempuran. Kementerian Pertahanan menuntut Thailand bertanggung jawab penuh atas agresi tersebut dan menyerukan penghentian segera seluruh serangan. Pernyataan ini menegaskan sikap Phnom Penh dalam mempertahankan keselamatan warga sipil dan kedaulatan wilayah.
Ketegangan meningkat sepanjang akhir pekan dan berlanjut hingga Senin. Kedua negara saling menuduh melanggar gencatan senjata yang sebelumnya disepakati, memperburuk situasi keamanan di perbatasan. Konflik ini menjadi sorotan regional karena potensi dampak kemanusiaan dan politik di kawasan Asia Tenggara.
Pengamat hubungan internasional menilai evakuasi besar-besaran menegaskan pentingnya mekanisme pengawasan internasional. ASEAN dan lembaga kemanusiaan diharapkan dapat memediasi, memastikan perlindungan warga sipil, dan mencegah eskalasi lebih lanjut.
Secara keseluruhan, serangan di perbatasan Thailand–Kamboja menimbulkan dampak kemanusiaan signifikan. Evakuasi ribuan keluarga dan luka-luka warga sipil menekankan perlunya langkah diplomasi cepat dan penyelesaian damai berbasis hukum internasional.
“Baca juga : BPKH Limited Salurkan Uang Konsumsi ke Jemaah Haji”




Leave a Reply